Bahasa Indonesia

Contoh Majas Sinekdoke Totem Pro Parte dan Pars Pro Toto

Majas Sinekdoke – Pembahasan ini akan membahas mengenai gaya bahasa sinekdoke totem pro parte dan pars pro toto. Majas sinekdoke adalah majas yang masuk ke dalam majas majas perbandingan.

Contoh majas sinekdoke totem pro parte dan pars pro toto, akan dijelaskan secara terperinci sebagai berikut.

Majas Sinekdoke Adalah

Majas Sinekdoke

Apa itu majas sinekdoke? Pengertian majas sinekdoke adalah gaya bahasa retorika yang digunakan dalam sastra untuk menggambarkan suatu objek dengan mengacu pada bagian dari objek tersebut, bukan seluruhnya, atau sebaliknya.

Majas sinekdoke tergolong ke dalam gaya bahasa perbandingan sebab mempunyai sifat perbandingan, sama halnya seperti majas eufemisme dan majas asosiasi.

Contoh majas sinekdoke adalah ketika seseorang mengatakan “seribu kepala sapi” untuk merujuk pada sekelompok sapi, atau “mata kita sedang membaca” untuk merujuk pada seluruh tubuh kita yang sedang membaca.

Majas sinekdoke memungkinkan pengguna untuk menciptakan gambaran yang lebih kreatif atau efektif dalam bahasa, dan sering digunakan dalam puisi, sastra, atau retorika untuk memberikan makna yang lebih mendalam atau menarik.

Ada banyak majas-majas lainnya yang telah kami bahas secara lengkap dan terperinci pada postingan Macam Macam Majas.

Contoh Majas Sinekdoke

Majas Sinekdoke

 

Majas sinekdoke sendiri tergolong jadi 2 macam yaitu majas sinekdoke totem pro parte dan majas sinekdoke pars pro toto. kali ini akan dijelaskan terkait 2 macam majas sinekdoke tersebut dimulai dari pengertian sampai dengan contohnya

Majas Sinekdoke Totem Pro Parte

Majas Sinekdoke

Majas sinekdoke totem pro parte adalah salah satu bentuk sinekdoke di mana sebagian dari suatu objek atau konsep digunakan untuk mewakili seluruhnya.

Dalam konteks ini, “totem” mengacu pada sebuah simbol atau representasi yang mewakili keseluruhan. “Pro parte” menunjukkan bahwa sebagian dari totem tersebut digunakan untuk merujuk kepada keseluruhan objek atau konsep tersebut.

Berikut ini contoh majas sinekdoke totem pro parte:

  • Segala tangan di kapal membantu mengangkat layarnya.
  • Sekelompok mata menyaksikan pertunjukan itu.
  • Kesepuluh jari tangannya sangat terampil.
  • Matahari membakar seluruh wajah mereka.
  • Hujan membuat baju saya basah hingga ke tulang.
  • Kendaraan ini memiliki empat kaki yang kuat.
  • Bibir itu membacakan puisi dengan indah.
  • Lima setelan jas sedang menunggu di lemari.
  • Kucingnya selalu merasa ingin bermain dengan bola wol.
  • Dia memiliki sepasang sayap yang akan membawanya ke impian-impian tinggi.
  • Bunga-bunga itu menari-nari dengan angin.
  • Saya melihat sepuluh mata merenung dengan serius.
  • Dia memiliki dua telinga tajam yang selalu mendengar gosip.
  • Dia memiliki lidah yang tajam dalam berbicara.
  • Semua kepala mengangguk setuju.
  • Sapi-sapi itu berkumpul di padang rumput.
  • Birunya laut begitu tenang di pagi ini.
  • Jari-jari tangannya begitu lihai bermain musik.
  • Keluarga itu memiliki tiga mulut untuk diberi makan.
  • Mobil itu punya empat kuda yang bertenaga.
  • Kota itu memiliki seratus hati yang ramah.
  • Dia memiliki sejuta hati yang baik.
  • Ia memiliki perut yang lapar sepanjang waktu.
  • Telinganya sangat tajam dalam mendengarkan bisikan-bisikan.
  • Saya akan mengenakan sepatu-sepatu emas itu di acara istimewa.
  • Dia memiliki mata yang tajam dalam memahami masalah.
  • Tangan-tangan kreatif membuat karya seni yang luar biasa.
  • Buku-buku itu adalah jendela dunia.
  • Saya mendengar dua puluh telinga mendengarkan musik itu.
  • Saya merasakan seribu mata memandang saya.

Majas Sinekdoke Pars Pro Toto

Majas Sinekdoke

Sinekdoke pars pro toto adalah majas retorika yang menggambarkan bagian dari suatu benda atau konsep untuk mewakili keseluruhannya. Dalam sinekdoke pars pro toto, sebagian dari suatu hal digunakan untuk mewakili keseluruhannya.

Misalnya, jika seseorang berkata, “Seluruh kelas meraih nilai A,” padahal sebenarnya hanya beberapa siswa yang meraih nilai A, itu adalah contoh dari sinekdoke pars pro toto. Dalam contoh ini, kata “kelas” digunakan untuk mewakili siswa-siswa secara keseluruhan.

Berikut ini contoh majas sinekdoke pars pro toto:

  • Semua kepala-kepala sekolah di kota ini mendukung program pendidikan.
  • Mata-mata sedang mengawasi semua gerak-gerik kita.
  • Seluruh rumah tangga merasa terpukul oleh krisis ekonomi.
  • Seluruh tim sepak bola sangat bersemangat menjelang pertandingan besar.
  • Jangan lupa untuk membaca Shakespeare; dia adalah tokoh besar dalam sastra Inggris.
  • Belum satu tahun usianya, tapi dia sudah berjalan sendiri.
  • Di ruang rapat, seluruh kepala departemen hadir.
  • Saya melihat banyak sepeda motor di jalan hari ini.
  • Bagi para seniman, kanvas adalah teman akrab.
  • Pelukis itu melukis langit-langit gereja dengan indah.
  • Dia membaca semua karya Shakespeare yang ada di perpustakaan.
  • Kalian harus menghormati semua usia.
  • Semua penonton mengejutkan pemain dengan tepuk tangan gemuruh.
  • Keluarga itu memiliki lima mulut untuk diberi makan.
  • Semua mata di ruangan tertuju padanya saat dia masuk.
  • Banyak tangan membantu dalam proyek kemanusiaan ini.
  • Teman-teman yang terbaik selalu hadir dalam kesulitan.
  • Semua orang menantikan datangnya musim panas.
  • Teman-teman sekelasnya sangat suka membacanya.
  • Para mahasiswa menerima guru itu dengan antusias.
  • Dia telah membaca semua buku di perpustakaan.
  • Para pemilih akan memutuskan nasib negara ini.
  • Setiap mata memandang ke arah panggung.
  • Ibu mertuaku memiliki lidah yang tajam.
  • Para penggemar sepak bola datang untuk mendukung tim kesayangan mereka.
  • Perawat merawat pasien dengan penuh perhatian.
  • Semua mata melihatnya saat dia naik ke atas panggung.
  • Pemirsa yang datang menonton pertunjukan ini terkesan.
  • Saya punya tangan yang kuat untuk membantu membawa barang-barang.
  • Anak-anak itu sangat senang mendapat es krim.

Semua contoh di atas adalah penggunaan sinekdoke pars pro toto, di mana bagian dari suatu konsep digunakan untuk mewakili keseluruhan.

Penutup

Jadi kurang lebih seperti itulah majas sinekdoke dan contohnya yang telah dijelaskan secara lengkap diatas. Semoga saja pembahasan ini bisa berguna dan bermanfaat untuk pembaca.

Apabila ada kesalahan ataupun kekurangan terkait dengan pembahasan yang telah kami jelaskan diatas, silahkan gunakan kolom komentar untuk mengirim komentar. Semoga bermanfaat.

Abdul Tora

Tora suka menulis tentang segala hal tentang pendidikan dan berharap dapat menambah makna pada apa yang dibaca orang. Dia adalah seorang expert dalam bidang Matematika dan Bahasa Indonesia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *